Merubah Desa Sei Rampah Jadi Pusat Tradisi Kuliner Semua Suku Dan Wisata Sampan (Catatan Zuhari Redaksi Media Online Sinarsergai.com) - Sinar Sergai

Breaking

Post Top Ad

Space Iklan

Post Top Ad

test banner

7/01/2019

Merubah Desa Sei Rampah Jadi Pusat Tradisi Kuliner Semua Suku Dan Wisata Sampan (Catatan Zuhari Redaksi Media Online Sinarsergai.com)

Pemandangan Sungai Sei Rampah dari sisi kiri dari arah Tebing Tinggi menuju Kota Medan



Keberadaan Desa Sei Rampah yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai),Sumatera Utara (Sumut) sangat mudah dijangkau oleh masyarakat, karena posisi Kota Sei Rampah ini dijalur Jalinsum (Jalan lintas Sumatera) yang dilalui ribuan jenis kendaraan setiap harinya. Di Kecamatan Sei Rampah ada 17 desa dan diantaranya Desa Sei Rampah yang sejak awal munculnya Sergai sudah ditetapkan menjadi ibu kota. Desa Sei Rampah ini memiliki 10 dusun dengan luas keseluruhan 6.40 Km dan dihuni oleh 12.307 orang.

Saat ini Desa Sei Rampah memang sudah berbenah. Terlihat pembenahan itu dilaksanakan masyarakat bersama dalam hal mengatasi banjir yang selama ini dialami masyarakat berdomisili di Dusun I, II,III,VI,VII, VIII dan hampir semua warga berdomisili di 10 dusun desa tersebut mengalaminya. Banjir mulai diatasi dengan melakukan pembenahan Sungai Sei Rampah dengan cara swadaya masyarakat dan bantuan dari berbagai pihak bahkan mungkin juga pemerintah daerah.

Akhirnya kedangkalan sungai yang selama ini menjadi salah satu penyebab banjir ketika air laut pasang dan curah hujan tinggi, sudah teratasi dengan melaksanakan normalisasi belum lama ini. Kini sungai tersebut mulai bersih dan masyarakat juga sudah mulai jarang mengeluh jika curah hujan tinggi,karena tidak lagi kebanjiran.

Pembenahan itu juga dilakukan pemerintah daerah terhadap pusat transaksi dagang yang selama ini dilakukan di pajak tradisional tepatnya diinti Kota Sei Rampah, kini sudah dipindahkan kelokasi baru,sehingga Jalinsum tidak lagi macet. Cukupkah hanya demikian saja. Selanjutnya, pembenahan juga dilakukan oleh Pemkab Sergai dengan menata pusat transaksi pedagang tradisional yang selama ini berpusat di inti kota pinggir Jalinsum. Kini sudah dipindahkan kelokasi baru jauh dari Jalinsum sekitar 100 meter jaraknya.

Kemacetan selama ini menjadi keluhan masyarakat pengguna jalan dapat diatasi dengan baik. Penataan ibu kota kabupaten ini secara perlahan sudah dilaksanakan, namun menurut alur pemikiran penulis, sebelum berakhir masa jabatan Bupati Sergai Ir.H.Soekirman – Wakil Bupati Sergai Darma Wijaya, periode 2016-2021, dapat ditingkatkan penataan ibu kota Sei Rampah, terutama bangunan-bangunan yang sudah berusia sedikit tua dan bagaimana Jalinsum disitu dapat dilebarkan lagi.
 
Pemandangan Sungai Sei Rampah dari sisi kiri dari arah Kota Medan menuju Tebing Tinggi
Bangunan yang ada sekarang ini bagaimana dapat ditata lebih baik lagi sehingga menjadi indah dan menarik. Desa Sei Rampah merupakan ibu Kota Kabupaten daerah ini dapat dirubah menjadi “Pusat Tradisi Kuliner Semua Suku dan Wisata Sampan,”. Jika ini dapat terwujud, maka akan membutuhkan banyak orang pedagang dan secara otomatis lowongan pekerjaan baru terbuka dengan lebar. Sei rampah akan menjadi desa Unggulan, Inovasi dan bisa berkelanjutan hingga kedepannya. Selain itu, aktivitas tersebut jelas mampu menambah pendapatan masyarakat, dan juga Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten Sergai ikut terdongkrak dan pengangguran secara otomatis berkurang.

Ciptakan Lokasi Kuliner Nyaman

“Banjir dan macet sudah dapat diatasi. Namun pendapatan masyarakat dengan situasi saat ini sepertinya dapat kiranya lebih ditingkatkan. Menggerakan dan mendongkrak perekonomian masyarakat di Desa Sei Rampah menurut Ketua Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) Sergai Budi SE, butuh kebersamaan pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan lahan yang baru diatas Sungai Sei Rampah atau dikenal dengan sebutan tanggul itu bisa dijadikan sebagai lokasi khusus kuliner di malam hari.”
Lokasi pajak trasional Sei Rampah yang baru dipindahkan.

Tapi,alangkah baiknya sebelum dijadikan lokasi kuliner di malam hari, pemerintah daerah dapat melaksanakan pembangunan tembok penahan terhadap tanggul tersebut sehingga tanahnya tidak runtuh kedalam sungai. Kemudian, tanah diatas tanggul tersebut bisa dilapisi dengan semen maupun paving block dengan penampilan pemandangan lukisan 3 dimensi.

Pemerintah daerah ini dapat mengajukan anggarannya ke Pemerintah Propinsi Sumatera Utara untuk melaksanakan pembangunan di Sungai Sei Rampah tersebut, sebab itu merupakan kewenanagan dari Pemerintah Propinsi Sumut. Pemandangan dengan warna 3 dimensi ini akan menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung untuk datang.
Lokasi pajak tradisional Sei Rampah yang lama

Lebih menariknya lagi, jajanan yang diperjual belikan dilokasi itu merupakan makanan khas handalan semua suku yang ada di Sergai ini,sehingga ini menjadi unik dan menarik bagi masyarakat untuk berkunjung.Ketertiban dan kebersihan lingkungan haruslah dijaga terutama Sungai. Sungai itu harus bebas dari sampah dan kotoran.

Sehingga lokasi tersebut bisa digunakan sebagai arena wisata Sampan. Perlu penataan yang lebih baik lagi. Dengan demikian, masyarakat merasa nyaman bahkan betah mengunjungi lokasi kuliner tersebut. Pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak yang bisa menyumbangkan dana bantuan dengan memanfaatkan bersumber dari Corporate Sosial Responsilibility (CSR) perkebunan dan perbankan untuk penyediaan tenda, kursi dan meja bagi pedagang, semua itu diberikan kepada pedagang dalam kerangka pinjam pakai atau disewakan. Kebijakan ini tentunya dapat meringankan beban biaya bagi masyarakat yang ingin berdagang di lokasi tersebut.

Diperkirakan lahan tersebut mampu menampung 150 hingga 200 orang pedagang dengan penataan yang rapi dan bersih. Areal parkir juga dapat dibuat tersendiri jauh dari lokasi penjualan kuliner. Selain itu, dilahan atas sungai itu, bisa juga dibangun tempat memancing dan membaca.

Pedagang ingin berdagang juga harus ditata dengan tertib. Di lokasi itu harus dikelompokan dari penjualan makanan khas semua suku, minuman tanpa alkohol, ikan bakar hingga Kerang rebusnya. Ini tentunya sangat menarik bahkan mampu mengundang masyarakat dalam daerah dan luar daerah. Ditambah lagi pancaran cahaya warna warni dari aliran listrik. Nah, keberadaan  jalan tol yang ada sekarang ini benar-benar membawa dampak positif untuk menghidupkan perekonomian masyarakat. Secara otomatis masyarakat luar daerah datang diyakini banyak menggunakan jalur tol agar tidak banyak menyita waktu.

Dan untuk menghindari kemacetan baru, perlu dibuka dan dibangun jalan alternatif menuju lokasi kuliner tersebut dari dua sisi yakni jalur sisi kiri dan kanannya. Lokasi itu harus bebas dari berbagai jenis kendaraan. Oleh karena itu lokasi parkir dibuat jauh dari pedagang. Pengunjung yang dating cukup berjalan kaki.

Kendaraan tidak diperbolehkan masuk ke areal pedagang. Wah, ini pasti sangat menarik dan menimbulkan kenyamanan bagi pengunjung. Untuk merubah sungai ini dibutuhkan juga orang yang ahli dibidangnya. Jika perlu diundang dari luar daerah bahkan konsultan dari luar negeri untuk mendesain sungai ini menjadi sungai yang terbersih dan terindah di Indonesia nantinya, khususnya di Sumatera Utara.Seiiring dengan itu, Sungai yang mengaliri air dari Sei Rampah ke Sungai Tanjung Beringin juga harus dibenahi kondisinya, sehingga tidak menimbulkan permasalah yang baru dalam wisata sampan nantinya dan kebersihan akan sungai di Sei Rampah.*****************

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here