Bupati Sergai Ir. H. Soekirman : Perbedaan Agama Menyatukan Masyarakat di Zanzibar - Sinar Sergai

Breaking

Post Top Ad




Post Top Ad



9/23/2019

Bupati Sergai Ir. H. Soekirman : Perbedaan Agama Menyatukan Masyarakat di Zanzibar

(Usai menyerahkan cendera mata Serdang Bedagai dan ulos Sumut kepada wakil Presiden Zanzibar. Amb. Seif A.Iddy, Bupati Sergai Ir. H. Soekirman didampingi Ketua TP. PKK Sergai Hj. Marliah Soekirman berfoto bersama.)

Zanzibar, Sinarsergai.com - Perbedaan keyakinan masyarakat di Zanzibar menjadi pemersatu bagi umat itu sendiri. Perbedaan agama bukan suatu masalah, namun kepercayaan itu malah mengajari masyarakat untuk hidup saling menghargai dan hidup tentram, tidak saling menghujat dan  bermusuhan oleh karena perbedaan agama tersebut.

Nah, disana kata Bupati Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara (Sumut) Ir. H. Soekirman dalam siar pers melalui WhatsApp, Senin (23/9/2019) , menyebutkan, meskipun pemeluk agama Hindu sangat minoritas di Zanzibar, para mufti dan pemerintah melarang warga muslim memotong Lembu di wilayah tempat tinggal warga Hindu. Inilah suatu bentuk toleransi kepada warga agama yang tidak memotong dan konsumsi daging Lembu.

Perlakuan yang sama juga dilaksanakan umat muslim terhadap masyarakat nasrani.Disana masyarakat saling mengucapkan ketika masing-masing  merayakan hari besarnya seperti Umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri dan Adha, maka umat Nasrani mengucapkan selamat dan memberikan makanan kepada umat muslim. Begitu juga umat muslim yang merayakan hari besar memberikan makanan kepada umat Nasrani dan Hindu. Selanjutnya sesama masyarakat saling mengunjungi.

"Budaya ini merupakan bentuk toleransi dan saling harga menghargai yang sudah lama dipelihara sejak abad ke 18 masa pemerintahan Sultan Oman dan ini  menjadi budaya yang turun temurun di Zanzibar."Ujar Soekirman. 

Kultur toleransi interfaith  menjadi pertimbangan UEM (United Evangelical Mission) Germany, memilih Zanzibar sebagai best practice dan menempatkan Interreligious Peace Confrence di Zanzibar yang dibuka oleh Vice President  Amb.Seif A.Iddy di Zanzibar Beach Resort 19-23 September 2019. Konfrensi ini di ikuti sekitar 65 orang dari 9 negara  Afrika, Asia, dan Eropah. 

Sedangkan delegasi dari Indonesia,  PGI Dr.Henriette Lebang, Gomar Gultom MA, Jakarta, Rev.Rosmalia Barus GBKP Sumut,  Diah Krismawati German/Indonesia, Martin R Purba GKPS, Hj.Marliah TP.PKK, dan Pdt.Pimpinan Sijabat HKI. Satu-satunya utusan pemerintah Ir.H.Soekirman dari Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut)

*Mayoritas Lindungi Minoritas*

Penduduk Zanzibar  sekitar 1,5 juta orang diperkirakan mencapai 95 % masyarakatnya menganut agama Islam. Masyarakat Kristen dan Hindu merupakan minoritas karena jumlahnya hanya beberapa persen. Mayoritas sangat melindungi kaum minoritas, dimana peran pemerintah memberi kebebasan kepada rakyat untuk memilih agama dan kepercayaan masing-masing. Leadership sejak Presiden Nyrere, budaya saling hormat antar agama semakin subur. Selain kebebasan memeluk kepercayaan, hubungan antar agama di Zanzibar sudah masuk pada menjawab masalah sosial, ekonomi dan budaya. Urusan agama tak lagi menjadi perdebatan. 

Mayoritas Islam disini pengikut Mahzab Syafii atau Ahlus Sunnah Wal jamaah.  Salah satu contoh upaya bersama antar agama seperti usaha "Upendo" yakni tempat belajar wiraswasta, belajar konveksi dan pemasaran produksi di Stonetown Zanzibar.

Nah, di Zanzibar itu selain toleransi angar umat beragamanya sangat baik, budaya untuk melestarikan lingkungan dan cegah kerusakan, merupakan menjadi prioritas juga bagi pemerintah Tanzania. 

Terkait menjaga lingkungan, sebut Soekirman, pemerintah Zanzibar melarang keras buang sampah plastik. Gerakan yang dimulai dari komunitas kini menjadi gerakan negara dan telah dilindungi oleh peraturan perundang-undangan (UU). Bagi siapa saja yang diketahui membuang sampah maka akan dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku.

Bahkan kini gerakan anti sampah plastik telah jadi gerakan bersama Afrika Timur, seperti Kenya, Tanzania, Rwanda, Namibia, Cameroon, dll. Inter religous Islam, Nasrani, Budha dan Hindu sama-sama melangkah untuk Common Sence (Akal sehat) dalam melindungi planet bumi yg semakin keberatan beban. 

 *Zanzibar Patut Jadi Contoh*

Toleransi umat beragama di Zanzibar patutlah untuk dijadikan contoh dan dalam hal menjaga kelestarian lingkungannya dengan   gerakan ekonomi kerakyatan, silaturahmi antar agama, cocok dipraktekan di Indonesia. Gerakan anti radikalisme dan saling hormat bisa menjadi cara untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat. Pancasila dan UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan pusaka yg pantas kita rawat. Untuk itu, delegasi Indonesia siap membawa "Zanzibar Spirit" untuk menjadi ingatan dan komitmen bersama membumikan di Indonesia. Forum antar agama spt FKUB, MUI, PGI, Walubi, Parisada Hindhu serta lembaga - lembaga profesi lainnya akan diajak untuk melakukan aksi nyata di masyarakat. Saya selaku Bupati Serdang Bedagai berjanji akan membawa hasil "Zanzibar Spirit" Dr.PWT Simarmata anggota DPD RI selaku pemberi rekomendasi ikutnya Sergai dalam forum tersebut. Pada sidang plenary session saya menampilkan presentasi "Harmony among the Believers" dalam case Serdang Bedagai dan mendapat sambutan hangat dari peserta. Dipihak lain saya juga didaulat menyerahkan ulos dan cenderamata kepada vice Presiden Zanzibar diujung acara pembukaan Konferensi.ungkap Bupati Sergai Soekirman. (Red)



No comments:

Post a Comment

Post Top Ad